Kesetaraan dalam islam
Kesetaraan yang dimaksud penulis disini tidak lain adalah kesetaraan dalam perspektif Islam. Berbicara tentang kesetaraan, masih banyak yang memperdebatkan mengenai kesetaraan gender, yakni siapa yang paling tinggi derajatnya diantara keduanya (pria dan wanita). Yang mengatakan pria lebih luhur derajatnya dibanding perempuan adalah karena merasa bahwa pria lah yang layak menjadi pemimpin di muka bumi ini, hal itu didukung dengan kenyataan bahwa para nabi-nabi dalam islam tidak ada yang wanita, selain itu dalam keluarga pun yang menjadi kepala keluarga adalah pria. Adapun yang mengatakan wanitalah yang lebih tinggi derajatnya dibandinkan dengan pria adalah karena merasa hadis nabi yang mengagungkan kedudukan seorang ibu merupakan jawabannya.
Mau tidak mau harus diakui bahwa pria memiliki satu derajat lebih tinggi dibandingkan wanita, hal ini sudah tertera dalam Al-qur’an surat al-baqoroh ayat 228
“Dan laki-laki memiliki satu derajat lebih atas dari wanita”
Kemudian dalam tafsiran Ibnu Katsir masih dengan ayat yang sama
“Dan laki-laki memiliki satu derajat lebih atas wanita” adalah dalam keutamaan akhlak, pangkat, ketaatan perintah, infaq, mendirikan kebaikan, keutamaan di dunia dan akhirat sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat an nisa’ ayat 34:
“ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka.”
Berdasarkan kenyataan diatas, sudah jelas bahwa pria lebih tinngi derajatnya dibandingkan perempuan, hal ini merupakan qodrat yang sudah Allah tetapkan. Terlebih lagi merupakan ketetapan Allah agar hambanya memiliki peran masing-masing di dunia. Hal ini berhubungan juga dengan peran wanita yang lebih unggul dari pria dalam masalah birrul waalidain, yakni seorang Ibu tiga tingkat lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan Ayah.
Terlepas dari kenyataan kenyataan diatas, pada dasarnya kesetaraan dalam islam tidak terpaku dalam perbedaan gender, bahkan ras dan suku seseorang, melainkan melalui tingkat keimanannya. Oleh karena itu, kita perlu kembali mengetahui bagaimana konsep Islam dalam meletakkan pria dan wanita sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala.
Pertama, kesamaan dalam takwa. Dalam soal takwa, tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Keduanya harus bertakwa kepada Allah, sebab Allah memuliakan siapa saja yang bertakwa kepadaNya. Kesamaan dalam takwa hanya beda dalam soal teknis pengamalannya, misalnya dalam pembagian tugas. Suami punya kewajiban sebagai kepala rumah tangga untuk mencari nafkah. Sementara istri menjadikan nafkah suami sebagai bekal memelihara rumah tangga. Ada pembagian tugas antara pria dan wanita untuk sama-sama menjadi orang yang bertakwa kepada Allah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS:: Al-Hujuraat : 13).
Kedua, kesamaan dalam amal perbuatan. Iman dan amal merupakan kesatuan tak terpisahkan. Iman yang tertanam dalam hati harus dibuktikan dalam bentuk amal. Ketika pria dan wanita telah mengaku sebagai Mukmin dan Mukminah, maka ia harus membuktikan dengan amal perbuatan. Allah akan membalasnya berupa kehidupan yang baik.
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS:. An-Nahl : 97).
Ketiga, kesamaan dalam ibadah, akhlak, dan sosial, meskipun berbeda secara teknis. Pria dan wanita punya kewajiban dalam beribadah kepada Allah. Mereka wajib mengerjakan Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Mereka harus menghiasi diri dengan budi pekerti luhur. Mereka juga berkiprah di ranah sosial, misalnya bertetangga, berkawan dan bersaudara.
إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusy´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS: Al-Ahzaab : 35).
Keempat, kesamaan dalam dakwah dan ketaatan. Dakwah yang mengajak kepada kebaikan dan ketaatan merupakan tanggung jawab semua kalangan umat Islam. Pria dan wanita harus ikut mengambil bagian dalam berdakwah sesuai porsinya. Seorang suami berdakwah mengajak istri dan anak-anaknya untuk taat kepada Allah. Seorang wanita berdakwah untuk selalu beramal shaleh, mengajarkan kebaikan dan tata cara kehidupan yang islami kepada anak-anaknya. Itulah sebabnya, tugas dakwah adalah tugas bersama, baik laki-laki maupun wanita.
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ
“Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS: At-Taubah : 71).
Kelima, kesamaan dalam masalah dosa dan pahala. Pria dan wanita yang beramal baik diganjar dengan pahala dan akan berdosa jika mengerjakan keburukan. Siapa yang beramal baik layak mendapat penghargaan. Siapa yang beramal buruk ia pantas diberi hukuman.
لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ١٢٣ وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ نَقِيرٗا
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS: An-Nisaa` : 123-124).
Keenam, kesamaan dalam mencari ilmu. “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim (laki-laki maupun perempuan).” (HR. Ibnu Majah). Mencari ilmu tidak hanya menjadi kewajiban kaum pria. Wanita juga ikut mengambil bagian di dalamnya. Seorang wanita hanya dapat mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar jika ia memiliki ilmu. Seorang ibu akan sanggup membimbing kehidupan keluarga sesuai tuntunan Ilahi jika ia pandai dalam masalah agama.
Kesamaan pria dan wanita telah diatur sedemikian rupa, lengkap dengan teknis dan operasionalnya. Kesamaan-kesamaan ini dibatasi sesuai dengan kodrat pria dan wanita. Konsep kesetaraan gender antara pria dan wanita dalam pemahaman di luar Islam sangat bertentangan dengan konsep kesetaraan dalam Islam. Kesetaraan dalam Islam bukan untuk mengekang atau membatasi, tapi ia hadir untuk memuliakan wanita dalam bingkai kehidupan yang berorientasi pada kehidupan di akhirat setelah berkiprah di dunia.
Aisyah Dinda Azizah(1195020007)

Comments
Post a Comment