Psikologi Seni dan Sastra di Indonesia Abad 20

Sumber Gambar : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
Indonesia terkenal akan budaya.

Siapa yang belum pernah mendengar kalimat tersebut ? Hal itu pasti sudah tidak asing. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, wali kelas kita pasti pernah bahkan sering mengucapkan kalimat tersebut. Paling tidak, guru sejarah atau pendidikan kewarganegaraan pasti pernah mengucapkannya. Hal itu sudah pasti melekat dengan kuat kepada murid bahkan dalam rentang waktu yang lama. Namun seiring bertambah usia, kita bukan lagi anak anak yang mengiyakan sebuah pendapat. Sebagian orang mungkin tidak terlalu memikirkan hal ini. Namun , bagi siapapun yang hendak terjun pada bidang ini setidaknya harus faham bagaimana dan seperti apa sastra dan seni itu sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan budaya?

Tidak diragukan lagi bahwa budaya di Negara Indonesia sangatlah dikenal. Diantara budaya budaya tersebut, sastra dan seni pun memiliki peran. Pasti semua orang Indonesia mengenal sosok Andrea Hirata, salah seorang sastrawan yang membawa nama indonesia lewat karya sastra dan karya seninya. Dalam bukunya yang berjudul “ Laskar Pelangi “ , ia menuliskan cerita yang mana terkandung didalamnya budaya Indonesia. Selain itu, Pak Nadhiem Makarim menyebutkan bahwa Sastra menempati posisi penting dalam pemajuan budaya dan pembentukan karakter bangsa. Hal itu diucapkannya pada konferensi pers peluncuran Sandiwara Sastra di jakarta, pada hari senin 6 juli 2020. Maka, bisa dipastikan bahwa sastra , seni dan budaya merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan.

Seorang Sastrawan asal Inggris pernah menuliskan buku dengan judul “ All Art is Propaganda “ yang mana memiliki arti bahwa seni merupakan propaganda. Disebut sebagai Propaganda karena pada akhirnya, seorang sastrawan berharap karya yang ia buat dapat mempengaruhi orang yang menikmatinya. Salah seorang sastrawan modern Indonesia, Pak Isa Alamsyah pun menyebutkan bahwa kegagalan bagi penulis jika apa yang ditulisnya tidak menyisakan apapun bagi pembacanya. Maka, dapat diyakini bahwa seni dan sastra bukanlah sesuatu terkait materi. Namun, sesuatu yang berpengaruh penting bagi masyarakat luas bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya. Adapun materi yang didapat hanya bonus dari kerja keras kita membuatnya.

Bagaimana dengan zaman sekarang?

Jarang sekali kita menemukan sebuah karya asli yang merupakan ide murni sang sastrawan. Beberapa orang mungkin terkecoh karena terlarut pada sumber ide. Sebagai contoh, banyak dari kita mengetahui cerita Cinderella. Jika kita hanya terpaku pada sumber pada akhirnya kita kan membuat cerita yang sama namun dengan nama dan keadaan yang berbeda. Hal tersebut banyak terjadi di Indonesia. Banyak sekali Novel, Lagu, bahkan Film yang isinya hampir menyamai sastra asing. Hal itu tentu bukanlah jalan keluar yang baik. Entah mungkin mereka tidak mengenal budaya sendiri atau mungkin terlalu mengenal budaya luar.

Namun, meski begitu ada pula satrawan yang masih memiliki ide murni. Diantaranya yaitu Habiburrahman El-Sihrazi, Tere Liye, Asma Nadia, Ernest Prakasa, Raditya Dika dll. Karya mereka memiliki ide yang menarik namun tetap menjaga estetika sastra dan seni yang mereka buat. Mendapat ide dari sebuah film atau cerita orang lain bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika kita menuliskannya sama seperti apa yang kita dapatkan justru akan membuat pembaca kecewa. Walaupun banyak karya seni dan sastra yang mendapatkan rating tinggi dalam industri Indonesia, masalah otentik atau tidaknya sebuah karya tidak dapat dinilai main main.

Hal itu pun berlaku bagi dalam Agama. Seni dan sastra juga memiliki keterkaitan dengan Agama. Kebanyakan orang biasanya lebih memahami media tulis dan visual sehingga banyak yang menjadikan seni ataupun sastra sebagai media penyebaran agama. Maka, tak jarang ada karya seni dan satra yang pada akhirnya menimbulkan konflik. Maka, dalam hal ini karena saya merupakan seorang penulis yang memiliki agama, bagi siapapun yang hendak menciptakan karya sastra dengan tema Agama haruslah berhati hati dalam prosesnya.

Dari hal diatas dapat dikatakan bahwa psikologi seni dan sastra di Indonesia pada abad 20 ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu seniman dan sastrawan yang memiliki ide murni tanpa bantuan, seniman dan sastrawan yang mendapat ide dari luar namun dikembangkan dengan ide sendiri, seniman atau sastrawan yang mendapat ide dari luar dan menghasilkan karya yang hampir bahkan sama dengan karya yang menjadi idenya. Kita sebagai masyarakat indonesia apabila serius ingin terjun pada dunia satra haruslah menciptakan karya dengan ide orisinil dan tidak bertolak belakang dengan kebudayaan indonesia terutama jika kita menciptakan karya bertemakan “ Indonesia “. Selain itu apa yang dibuat haruslah berpengaruh bahkan sampai mengatakan “ Nah, ini baru karya anak Indonesia “


Asti Khosyatillah(1195020019)

Comments

Popular posts from this blog

Sistem Pemerintahan Islam Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Kesetaraan dalam islam